Kamis, 02 Oktober 2014

#1 Judul : Laci Pikiran



Konon manusia memikirkan 50 ribu sampai 60 ribu hal setiap harinya. Otak bisa jadi mirip seperti gerak transportasi di kota Jakarta, bisa macet dan melambat namun sesungguhnya tak pernah berhenti.

Setiap manusia tenggelam dalam alam pikirannya sendiri, bahkan pada saat kita mengatakan diri kita tidak sedang berpikir, sebenarnya kita sesungguhnya memikirkan sesuatu. Pikiran itu memenuhi laci laci otak, memenuhinya, dan terkadang tanpa disangka mereka sudah menyesakkan laci otak kita

 Kasihannya, sebagian manusia mengalami kebingungan luar biasa mengelola pikirannya. Sebagian kita lebih sibuk mengelola fisik namun terkadang pikiran seringkali lebih penting daripada fisik. Akhirnya, laci pikiran yang tak terawat pun membusuk. Pikiran yang membusuk bagaikan kanker yang sulit diobati. Mereka bahkan lebih mirip bom waktu, ledakannya tak terduga dan kerusakannya tak terkira. Akhirnya ‘korban-korban’ pun berjatuhan.

Pikiran yang secara terus menerus mengalir dalam otak memerlukan penyaluran. Bisa dibayangkan sesuatu yang mengalir bila terhambat, mungkin mirip dengan got hitam busuk yang tak menemukan penyalurannya. Akumulasi itu melahirkan stress, kegilaan, kesehatan yang menurun serta tindakan tindakan yang tak terduga.

 Manajemen Pikiran

Suatu saat, seorang supir taksi mengemudikan kendaraannya di tengah jalan kota yang cukup padat. Sebagian penduduk kota tersebut telah terbiasa meluapkan kemarahannya secara frontal. Walaupun demikian, emosi mereka cepat mereda ketika 'lawannya' tak turut menanggapi secara frontal pula.

Di jalan yang begitu padat, insiden kecil seringkali sulit dihindari. Supir taksi tersebut ketika menjalankan kendaraanya hampir saja menyenggol mobil yang ada di hadapannya.

Pengendara mobil yang hampir bersenggolan marah besar. Dia menghentikan mobilnya, dan mengajak supir taksi bertengkar dengan mengeluarkan kata-kata kasar.

Namun, supir taksi tersebut malah tersenyum. Dia melambaikan tangan, tersenyum dan menyapa ramah. Dia kembali melajukan kendaraannya, terlihat tenang dan tak lagi memikirkan masalah tersebut.

 Penumpang taksi yang bukan penduduk asli kota tersebut merasa takjub dengan perilaku supir. Dia bertanya dengan sopan.

"Paman, mengapa engkau tak membalas perkataan orang tersebut tadi?" Tanyanya.

Supir taksi tersebut menjawab tenang.

"Terkadang setiap orang membawa 'sampah' yang dia bawa ke mana-mana dan menumpahkannya di tempat yang tak sepantasnya. 'Sampah' itu adalah masalah dalam pikiran, mungkin berasal dari rumah, dari tempat kerja atau dari mana saja. Bisa jadi orang tadi seperti itu. Saya tak mau menerima 'sampah' orang tersebut dan membawanya."

Begitulah, terkadang seseorang membawa 'sampah' pikiran dan menunggu saat menumpahkannya. Dia akan menumpahkan hanya karena terpicu masalah kecil.

Terkadang ketika seseorang marah kepada kita, sejatinya bukanlah semata-mata karena perbuatan kita. Dia hanya mencari 'trigger', sehingga pelatuknya bisa melemparkan peluru kemarahannya. Mirip dengan kisah seorang bos yang tak bisa marah di hadapan istrinya, akhirnya pelampiasannya kepada bawahannya yang berada di bawah kekuasaannya.

Untuk mengatur pikiran sejatinya kita harus mengatur informasi yang masuk ke dalam pikiran kita. Beragam informasi yang bersifat sampah tak bisa diharapkan menjadi barang yang berguna.

Pikiran, selayaknya laci, perlu untuk diatur. Masukkanlah barang yang berguna, dan keluarkan barang yang tak penting. Kita harus selalu menyediakan kunci karena tak semua informasi harus masuk ke dalam laci pikiran kita.

 Tetaplah tenang
Hidup terkadang tak menawarkan hal yang indah kepada kita selain ketegangan yang menumpuk-numpuk. Namun, apapun yang terjadi tetaplah bersikap tenang.

Seseorang yang kehilangan ketenangan, ibarat seseorang yang membiarkan tsunami informasi buruk yang meluluhlantakkan pikirannya.

Kembali merenungi makna hidup dan hakekat hamba, menjadi resep jitu menghadapi kerasnya hidup. Ingatlah, Tuhan selalu memberikan kita kemampuan mencari jalan keluar dalam setiap permasalahan. Tetaplah percaya!

Selasa, 22 Oktober 2013

Karena Dunia Tak Selebar Daun Kelor





"Kapalnya sudah pergi. Kalian terlambat." Kalimat itu membuatku menggerutu dalam hati. Perjalanan dari Malang menuju Tanjung Perak seperti menjadi sia-sia. Apalagi kami sudah membeli tiket untuk pulang ke Makassar setelah melakukan pendakian selama seminggu di Semeru.

Seharusnya malam ini saya bersama ketiga sahabat, Tony, Tobo, dan Pardi sudah berada di atas kapal menuju ke kampung halaman. Mungkin sambil menikmati desir angin malam yang bermanja-manja menyelimuti tubuh kami. Tapi tidak, waktu tidak menunggu siapa-siapa. Telat sedetik ataupun sejam sama saja. Artinya kami harus menyusun rencana baru.

"Ada sih kapal. Tapi besok." Kata penjual tiket.

Kami saling berpandangan.

"Bagaimana kalau kita menginap di sini saja malam ini?" Kata Tony.

"Boleh." Kata Tobo mendukung Tony.

Memang sepertinya tidak ada pilihan lain. Menggembel di pelabuhan adalah pilihan yang paling pas buat kami saat ini. Tapi mungkin juga bukan pilihan yang pas. Kondisi pelabuhan yang penuh aliran manusia, membuatku membuka mata kewaspadaanku. Barang-barang disusun rapi terjangkau dari pandangan.

“Dulu waktu berkunjung ke sini, saya sempat bertemu dengan orang Makassar. Saya akan mencarinya bersama Tobo, siapa tahu dia masih di sini. Mungkin kita bisa menginap di tempatnya. Kalian di sini saja.” Tony menceritakan rencananya.

Aku dan Pardi mengiyakan saja. Ide tersebut terdengar masuk akal saat ini.

***

Angin malam mulai berhembus-hembus manja di tubuh kami. Beralaskan matras, aku merebahkan diri sambil menatap langit-langit. Malam seperti bercerita padaku saat ini.

Tony telah kembali. Dengan kabar orang yang dicari tiada ketemu. Jadi kami sepakat untuk tidur saja di depan loket penjual tiket. Tak mengapa, aku mulai menikmati momen ini. Menjalani kehidupan malam di pelabuhan perak. Menjadi gembel, tidur beralaskan bumi, beratapkan langit.

“Milo hangat mas, kopi hangat. Yang hangat-hangat.” Suara seorang ibu terdengar di telingaku. Kami mengalihkan pandangan ke arahnya.

Seorang wanita berumur sekitar 35-an tahun berdiri di hadapan kami. Dia membawa termos, minuman instan dan gelas-gelas plastik. Dengan gigih dia menawarkan jualan minumannya. Walau kami telah berusaha menolaknya.

Mendadak aku merasa kasihan kepada wanita itu. Bayangkan, seorang wanita di tengah malam berada di pelabuhan untuk mencari rezeki. Kerasnya kehidupan bagi banyak orang tidak membuat mereka menyerah. Malah mereka semakin berusaha keras untuk berjuang dan tak menyerah.

Aku merotasikan pandanganku. Tingkah manusia bercerita tentang makna hidup kepadaku. Begitu banyak manusia berada di pelabuhan ini. Mereka semua mempunyai penderitaan hidupnya masing-masing. Namun aku bisa melihat, bagi sebagian orang penderitaan kehidupan bukanlah masalah, namun masalahnya adalah bagaimana kita memutuskan untuk menghadapinya.

Sebagian orang memilih untuk berbuat menyerah, dan sebagian lagi memilih untuk berjuang.

Dan mereka yang memilih untuk berjuang, salah satunya adalah wanita di hadapanku.

“Pesan satu mbak. Milo hangat.” Kataku. Teman-teman yang lain ikut memesan.

Wanita itu dengan cekatan menyajikan pesananku. Tanpa senyum, namun ekspresinya bercerita tentang banyak hal. Dalam hatiku aku merasa damai. Walau malam ini kami mengalami masalah, namun selalu ada hikmah yang dapat kami petik tentang kehidupan. Karena memang dunia tak selebar daun kelor, dan masalah dalam hidup pun tak selalu sebesar seperti apa yang kita bayangkan. Pandanglah jauh, maka kita dapat mengerti banyak orang yang mengalami masalah yang lebih besar dalam hidup kita.






Senin, 28 Mei 2012

Menjadi Orang Lain



Mungkin dalam hidup kita ini, kita pernah berharap menjadi orang lain. Beban kehidupan yang menghimpit tubuh kita terasa begitu berat, sehingga terkadang kita menengok ke sisi lain, ke sisi kehidupan orang lain. Terasa menyenangkan kehidupan mereka, tiada beban, tiada derita.

            Tapi mungkin itu hanya dalam pikiran kita saja!

            Alam pikiran merupakan suatu hal yang penuh misteri. Kita tidak dapat menerka bagaimana alam pikiran seseorang hanya dengan menengok fisiknya saja. Karena memang kebahagiaan itu ada dalam hati, bukan berada dalam fisik. Bagaimana mungkin kita dapat mengukur sesuatu yang tidak bisa diukur dengan ukuran fisik, yaitu kebahagiaan. Tiada ukuran yang pasti tentangnya.

            Jika ditanyakan kepada seseorang tentang dirinya, saya rasa setiap orang mempunyai keluhannya masing-masing. Karena hidup itu sendiri sudah merupakan ujian. Walaupun sekecil apapun, setiap orang pernah mengalami saat-saat terpuruk dalam hidupnya. Saat-saat yang membuatnya terjatuh dan terhempas. Dan saat-saat dia merasa kehilangan keseimbangan dia merasa kehidupan orang lain itu menyenangkan. Tapi mungkin dia tidak menyadari, di sisi lain, ada  orang yang sedang dia irikan juga  bermimpi menjadi dirinya. 

            Saya punya seorang guru bahasa Inggris. Seorang guide. Beliau orangnya selalu ceria. Dengan jenggot yang lebat dan pakaian jubah membawa kekhasan pada dirinya. Mungkin beliau adalah satu dari seribu guide yang berpenampilan unik seperti itu. Atau mungkin beliau adalah satu-satunya guide di Indonesia yang berpenampilan unik seperti itu.

Dia bercerita bahwa dia menolak pekerjaan untuk mengelola sebuah wisata travel dengan gaji lima sampai dengan enam jutaan, karena dia merasa nyaman dengan kemerdekaannya. Dia lebih senang hidup dengan kebebasan tanpa terikat oleh pekerjaan walau penghasilannya sendiri tidaklah menentu. Dia juga pernah bercerita bahwa idealismenya dalam bidang agama melarangnya menerima pekerjaan tersebut.         

            Mungkin orang berkata, wah, itu pilihan yang salah. Bagaimana mungkin Beliau menolak kesempatan sebagus itu dan memilih hidup dengan penghasilan tidak menentu? Tapi itu pilihan hidupnya. Pilihan hidupnya membawanya pada kebahagiaan. Mungkin beliau adalah orang yang berprinsip hidup kita adalah tugas kita sendiri untuk mengisinya.  Kita tidak bisa membiarkan standar kebahagiaan orang lain menjadi standar kita. Setiap orang itu unik, dan memiliki standar kebahagiaannya sendiri. Kita bisa meniru atau mengimitasi kehidupan orang lain, namun kita tidak bisa menjadi orang lain. 
            Saya mengibaratkan kehidupan kita itu seperti gelas yang berisi air. Walaupun gelas kita hanya setengah isinya, namun tetap itu adalah milik kita. Kita tidak bisa merebut gelas orang lain yang penuh, karena cemburu. Tapi tugas kita adalah mengisi air dalam gelas kita agar bisa sepenuh gelas orang lain, tanpa perlu merebut gelas orang lain tersebut.

            Mari sama-sama menikmat gelas berisi air yang kita miliki dengan keikhlasan dan kesyukuran kepada Allah. Niscaya Allah akan menambah air dalam gelas kita. Percayalah!

Selasa, 18 Oktober 2011

Tips-tips Menghindarkan Kekecewaan karena Piutang


Suatu hari seseorang, sebut saja namanya mister Fulan meminjamkan uangnya kepada seseorang karena kasihan. Mister Fulan ini berniat baik dengan dasar keinginan membantu orang tersebut yang lagi membutuhkan.
                Bulan demi bulan berlalu, mister Fulan menunggu dengan sabar. Sampai akhirnya kesabarannya habis. Dia lalu datang menagih kepada si peminjam. Peminjam berkata agar mister Fulan bersabar, karena pengakuannya dia tidak punya uang.
                Tapi mister Fulan heran karena si peminjam tersebut baru saja menjual tanah dan rumahnya yang jumlahnya berpuluh-puluh kali lipat dari utangnya. Menurut pemikiran mister Fulan seharusnya si peminjam punya uang. Tapi dia tidak ingin memaksa dan marah kepada si peminjam.
                Bulan demi bulan berlalu, tahun demi tahun berlalu. Mister Fulan yang dulunya baik hati dan ramah tamah tidak dapat menahan kesabarannya. Dia datang ke tempat si peminjam dan menagih uangnya dengan perkataan sehalus mungkin. Si peminjam pun berjanji akan mengembalikannya beberapa waktu kemudian. Rianglah hati mister Fulan.
                Tak disangka, di waktu yang dijanjikan mister Fulan harus mendapatkan kekecewaan. Sang peminjam yang dulu berjanji kepadanya hilang entah ke mana. Remuk sudah kepercayaan mister Fulan, dia tidak seperti dulu lagi, yang suka membantu orang lain saat dibutuhkan.
                Seorang penulis buku pernah menuliskan sebuah tips dalam meminjamkan uang kepada orang lain “ Janganlah meminjam kalau masih berharap untuk dikembalikan”. Kata penulis lainnya bahwa “Jangan pernah meminjamkan uang kepada orang lain, tapi berikanlah saja dengan ikhlas tanpa ada harapan dikembalikan”. Ini karena masalah utang piutang sangat tidak menyenangkan. Ditolak segan, menagih tidak enak, tidak dikembalikan bisa memutuskan tali silaturrahim.
Tidak menyenangkan bukan mengalami hal tersebut? Berikut ini ada beberapa tips untuk menghindar dari kekecewaan karena berutang :
1.       Niatnya udah betul belum?

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits)[
                Kalau niatnya bukan karena Allah maka meminjamkan uang sebaiknya diurungkan saja. Karena hasilnya bisa jadi menjadi sebuah dosa.
2.       Tahu gak ajaran orang berutang itu juga punya hak-hak?
Hak-hak orang berutang di antaranya :
a.       Menagih dengan cara yang baik
“Semoga Allah merahmati seseorang yang memberi kelapangan ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya).” (HR. Bukhari no. 2076)
b.      Memberi tenggang waktu bagi orang yang kesulitan
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280)
“Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah.” (HR. Muslim no. 3006)
3.       Tahu gak ternyata memberi utang mempunyai banyak manfaat?
a.       Diberi kemudahan dunia dan akhirat
Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Muslim no. 2699)
b.      Ketika kita memudahkan menagih utang kita termasuk (insya Allah) dalam doa nabi
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَإِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى
Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya).” (HR. Bukhari no. 2076)
c.       Mendapatkan fasilitas naungan Allah (insya Allah)
مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ
“Barangsiapa memberi tenggang waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan membebaskan utangnya, maka dia akan mendapat naungan Allah.” (HR. Muslim no. 3006)
d.      Dapat pahala dobel, bersedekah dan pahala mengutangkan
Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya,
“Barangsiapa memberi tenggang waktu pada orang yang berada dalam kesulitan, maka setiap hari sebelum batas waktu pelunasan, dia akan dihitung telah bersedekah. Jika utangnya belum bisa dilunasi lagi, lalu dia masih memberikan tenggang waktu, maka setiap harinya dia akan dihitung telah bersedekah semisal tadi.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Majah, Ath Thobroniy, Al Hakim, Al Baihaqi. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 86 mengatakan bahwa hadits ini shohih)
e.      Mendapatkan ampunan Allah (insya Allah)
Dari Hudzaifah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Beberapa malaikat menjumpai orang sebelum kalian untuk mencabut nyawanya. Kemudian mereka mengatakan, “Apakah kamu memiliki sedikit dari amal kebajikan?” Kemudian dia mengatakan, “Dulu aku pernah memerintahkan pada budakku untuk memberikan tenggang waktu dan membebaskan utang bagi orang yang berada dalam kemudahan untuk melunasinya.” Lantas Allah pun memberi ampunan padanya.” (HR. Bukhari no. 2077)

4.       Tahukah kita keutamaan bersabar pertama kali?
Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula (pertama kali) tertimpa musibah. (HR. Bukhari)

5.       Yang terakhir kita harus menyadari bahwa itu semua adalah takdir, dan menyesalinya adalah perbuatan tidak terpuji. Menyesali sesuatu hal hanya akan membawa dosa bagi kita.
a.       Semua adalah takdir Allah
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkanAllah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."
b.      Bahaya berandai-andai
Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kamu dan mohonlah pertolongan Allah, dan jangan lemah semangat (patah hati). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, "Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu", tetapi katakanlah, "Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya." Ketahuilah, sesungguhnya ucapan: "andaikata" dan "jikalau" membuka peluang bagi (masuknya) karya (kerjaan) setan." (HR. Muslim)
c.       Pena telah diangkat
Dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas rodhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Lalu beliau bersabda , “Nak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Alloh, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Alloh, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi Dia berkata , “Hadits ini hasan shohih”)

Wallahu a’lam

Senin, 17 Oktober 2011

Bantulah Saudaramu dengan Tidak bertanya


Orang Indonesia memang mempunyai karakter dan kelebihan yang unik. Karena rasa sayang yang tinggi kepada saudaranya, mereka sering menanyakan hal-hal yang sangat privasi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang diulang-ulang sampai yang ditanyakan menjadi jenuh.
Pertanyaan tersebut misalnya :
                “Kok kamu gak lulus kuliah, kamu kan pintar?”
                “Kapan kerja?”
                “Kapan punya anak?”
                “Kapan naik haji kayak aku?”
                “Kapan nih kamu beli rumah? Aku bisa kamu juga bisa.”
                Dan pertanyaan lainnya.
                Terkadang saya berpikir, mungkin ada di antara kita yang suka menanyakan hal seperti itu dengan tujuan mengakrabkan diri. Dengan memasuki area privasi seseorang, kita ingin orang tersebut mengerti bahwa kita peduli dengan kehidupan pribadinya.
                Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak memikirkan efek dari pertanyaan tersebut. Apakah dengan bertanya tersebut apakah membawa kebaikan kepada orang yang kita tanya atau tidak, atau mungkin membawa kebaikan kepada diri kita sendiri.
                Kadang-kadang, sebagian orang tidak menjelaskan alasan mengapa mereka tidak melakukan sesuatu, tapi saya rasa sebagian orang punya alasan untuk hal-hal yang tidak dia lakukan. Dan tentu saja dia berhak untuk tidak menjelaskan alasan-alasannya.
                Dalam suatu hadits disebutkan :
Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kamu dan mohonlah pertolongan Allah, dan jangan lemah semangat (patah hati). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, "Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu", tetapi katakanlah, "Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya." Ketahuilah, sesungguhnya ucapan: "andaikata" dan "jikalau" membuka peluang bagi (masuknya) karya (kerjaan) setan." (HR. Muslim)
                Ada point penting dalam hadits tersebut, yaitu perihal menerima takdir dan perihal larangan berandai-andai.     Beriman kepada takdir Allah merupakan hal yang penting dalam agama, dan kita dilarang untuk berprasangka buruk kepada takdir Allah.
                Terkadang kita menanyakan kepada seorang teman atau keluarga mengenai takdir, tanpa kita mengerti masalah yang dia hadapi. Misalnya saja kita bertanya kepada seseorang yang tidak naik haji, sementara menurut kita dia mampu. Atau kita bertanya kepada seseorang yang tidak lulus kuliah sementara menurut kita dia pintar padahal kita tidak tahu alasannya.
                Mungkin saja alasannya seseorang tersebut tidak naik haji karena dia dia suka membantu keluarganya yang fakir.  Atau mungkin saja alasannya seseorang itu tidak lulus karena dia ada masalah keuangan, atau banyak hal2 yang lainnya yang tidak kita ketahui.
                Mungkin saja bila kita bertanya-tanya kepada seseorang akan membuat dirinya berandai-andai.  Berandai-andai bila dia tidak membantu keluarganya yang fakir mungkin saja dia bisa naik haji. Atau bila dia kaya mungkin saja dia bisa melanjutkan kuliahnya.  Dan itu akan membuka peluang masuknya setan dalam pikirannya, dan akhirnya membawa dia ke jurang dosa dan perasaan tidak bersyukur. Padahal kita sendiri menganggap pertanyaan kita adalah pertanyaan yang sepele dan tidak berakibat apa-apa.
                Kalau sudah begitu, masihkah kita tidak berhati-hati bila hendak menanyakan sesuatu kepada saudara kita?
                Bantulah Saudara kita dengan tidak bertanya hal yang membuatnya tidak bersyukur dan jatuh dalam jurang dosa.
                Wallahu a’lam.
Orang Indonesia memang mempunyai karakter dan kelebihan yang unik. Karena rasa sayang yang tinggi kepada saudaranya, mereka sering menanyakan hal-hal yang sangat privasi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang diulang-ulang sampai yang ditanyakan menjadi jenuh.
Pertanyaan tersebut misalnya :
                “Kok kamu gak lulus kuliah, kamu kan pintar?”
                “Kapan kerja?”
                “Kapan punya anak?”
                “Kapan naik haji kayak aku?”
                “Kapan nih kamu beli rumah? Aku bisa kamu juga bisa.”
                Dan pertanyaan lainnya.
                Terkadang saya berpikir, mungkin ada di antara kita yang suka menanyakan hal seperti itu dengan tujuan mengakrabkan diri. Dengan memasuki area privasi seseorang, kita ingin orang tersebut mengerti bahwa kita peduli dengan kehidupan pribadinya.
                Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak memikirkan efek dari pertanyaan tersebut. Apakah dengan bertanya tersebut apakah membawa kebaikan kepada orang yang kita tanya atau tidak, atau mungkin membawa kebaikan kepada diri kita sendiri.
                Kadang-kadang, sebagian orang tidak menjelaskan alasan mengapa mereka tidak melakukan sesuatu, tapi saya rasa sebagian orang punya alasan untuk hal-hal yang tidak dia lakukan. Dan tentu saja dia berhak untuk tidak menjelaskan alasan-alasannya.
                Dalam suatu hadits disebutkan :
Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kamu dan mohonlah pertolongan Allah, dan jangan lemah semangat (patah hati). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, "Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu", tetapi katakanlah, "Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya." Ketahuilah, sesungguhnya ucapan: "andaikata" dan "jikalau" membuka peluang bagi (masuknya) karya (kerjaan) setan." (HR. Muslim)
                Ada point penting dalam hadits tersebut, yaitu perihal menerima takdir dan perihal larangan berandai-andai.     Beriman kepada takdir Allah merupakan hal yang penting dalam agama, dan kita dilarang untuk berprasangka buruk kepada takdir Allah.
                Terkadang kita menanyakan kepada seorang teman atau keluarga mengenai takdir, tanpa kita mengerti masalah yang dia hadapi. Misalnya saja kita bertanya kepada seseorang yang tidak naik haji, sementara menurut kita dia mampu. Atau kita bertanya kepada seseorang yang tidak lulus kuliah sementara menurut kita dia pintar padahal kita tidak tahu alasannya.
                Mungkin saja alasannya seseorang tersebut tidak naik haji karena dia dia suka membantu keluarganya yang fakir.  Atau mungkin saja alasannya seseorang itu tidak lulus karena dia ada masalah keuangan, atau banyak hal2 yang lainnya yang tidak kita ketahui.
                Mungkin saja bila kita bertanya-tanya kepada seseorang akan membuat dirinya berandai-andai.  Berandai-andai bila dia tidak membantu keluarganya yang fakir mungkin saja dia bisa naik haji. Atau bila dia kaya mungkin saja dia bisa melanjutkan kuliahnya.  Dan itu akan membuka peluang masuknya setan dalam pikirannya, dan akhirnya membawa dia ke jurang dosa dan perasaan tidak bersyukur. Padahal kita sendiri menganggap pertanyaan kita adalah pertanyaan yang sepele dan tidak berakibat apa-apa.
                Kalau sudah begitu, masihkah kita tidak berhati-hati bila hendak menanyakan sesuatu kepada saudara kita?
                Bantulah Saudara kita dengan tidak bertanya hal yang membuatnya tidak bersyukur dan jatuh dalam jurang dosa.
                Wallahu a’lam.

Rabu, 06 April 2011

Ketika Kita Masih Bermetamorfosis




Semua ini menunjukkan keahlian, luasnya pengetahuan, dan tak terbatasnya kekuatan Tuhan kita. Setelah melihat ini semua, kita seharusnya mengambil hikmah dari mereka dan tunduk kepada- Nya.
(Harun Yahya)
Di kala penulis masih kecil, penulis sering mengagumi keindahan kupu-kupu yang terbang bebas di alam. Keindahan yang membawa penulis ke sebuah kekaguman, betapa Maha Kuasa Sang Pencipta menciptakan lukisan yang indah dalam sayap kupu-kupu. Betapa dalam dunia ini Allah menciptakan kerumitan dalam keteraturan pola warna sayap kupu-kupu yang bila kita renungkan akan membawa kita kepada suatu ketundukan bahwa kita adalah makhluk yang lemah di hadapannya.
Namun sesungguhnya banyak hikmah yang dapat dipetik dari makhluk hidup yang satu ini, yaitu proses perkembangan kupu-kupu dari sebuah ulat yang dinamakan proses matamorfosis. Dalam ilmu biologi, metamorfosis didefinisikan sebagai suatu proses biologi di mana hewan secara fisik mengalami perkembangan biologis setelah dilahirkan atau menetas. Metamorfosis kupu-kupu adalah suatu proses yang unik.  Mengapa unik karena hewan ini mengalami suatu proses biologi dari suatu makhluk yang bentuknya sangat berbeda yaitu ulat menjadi kupu-kupu yang indah.
Kupu-kupu mengalami tahapan yang panjang sebelum menjadi kupu-kupu dewasa yang indah serta harus mengalami beberapa macam tantangan. Pada tahap pertama, kupu-kupu akan bertelur yang selanjutnya menjadi ulat. Setelah ulat tersebut memanjang dan menjadi besar, ia akan berubah menjadi kepompong. Di dalam kepompong tersebut, terjadi proses penghancuran sebagian tubuh ulat oleh cairan pencernaan, sehingga yang tersisa hanya sedikit saja bagian dari ulat tersebut. Penghancuran tersebut bertujuan agar sebagian sel yang tersisa mendapatkan sumber makanan dari hancuran tubuh ulat tersebut. Sumber yang lain menyebutkan bahwa makanan yang diperoleh ulat tersebut berasal dari daun yang dimakan oleh ulat pada tahapan sebelumnya hingga memenuhi tubuhnya sehingga tubuhnya nampak seakan-akan hampir pecah karena dipenuhi oleh makanan tersebut. Dari sumber makanan tersebutlah seekor ulat dapat bertahan dalam kepompong tanpa mengambil makanan dari luar.
Kira-kira sepuluh hari berikutnya, kepompong tersebut pun robek dan muncullah kupu-kupu muda. Kupu-kupu muda tersebut pun melakukan proses pengisian cairan tubuhya pada pembuluh sayapnya dengan tujuan sayapnya dapat meregang. Setelah proses tersebut selesai dan sayap tersebut telah kering, kupu-kupu dewasa yang indah pun terbang ke alam tanpa memerlukan latihan.
Demikianlah seterusnya, kupu-kupu betina akan melanjutkan proses regenerasinya dengan mengeluarkan larva atau telur dari tubuhnya, dan dari larva tersebut akan muncullah sebuah ulat yang pada akhirnya akan berproses menjadi kupu-kupu lagi. Siklus tersebut akan berulang terus menerus hingga akhir zaman.
Mempelajari hal tersebut mengingatkan kita, bahwa sesulit apapun tantangan yang dihadapi oleh seekor ulat, ulat tersebut tidak akan mengubah keinginannya untuk terus berproses menjadi kupu-kupu yang indah. Sesunyi apapun kehidupan di dalam kepompong, ulat tersebut tak akan menyerah menggapai takdir dan cita-citanya menjadi seekor kupu-kupu. Dalam proses tersebut ada pengorbanan yang dilakukan oleh ulat, namun semua pengorbanan itu akan terjawab tuntas ketika kupu-kupu yang indah lahir dari pengorbanan seekor ulat.
Dengan demikian, jelaslah sudah bahwa penggapaian cita-cita dan harapan memerlukan pengorbanan dan kerja keras. Laksana ulat yang berada dalam kepompong, manusia dalam pencapaian cita-citanya terkadang harus membungkus dirinya dengan keteguhan hati dari segala cercaan dan segala hal yang melemahkan dari luar dirinya. Terkadang kita pun harus mengalami sakit dan derita dalam penggapaian cita-cita tersebut seperti ulat tersebut. Namun bila kita telah menggapai harapan kita tersebut, maka keindahan akan terpancar dari hasil pengorbanan kita.
Dan mungkin saja ketika pencapaian cita-cita itu tiba tidak ada lagi yang mengingat ulat tersebut, melainkan yang nampak di mata mereka hanyalah kupu-kupu yang indah. Dan semoga bila saat itu tiba, maka senyum indah dan kesyukuran selalu tersungging dari jiwa kita mengingat sebuah pesan dari Sang Pencipta. Bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang diciptakan di muka bumi ini yang tidak menceritakan kebesaran dan keesaan Sang Pencipta. Dan tidak ada sesuatupun yang tidak bisa diubah oleh Allah bila Allah telah berkehendak termasuk kesulitan-kesulitan kita.

Selasa, 05 April 2011

Renungan Nasi Kuning

Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri.
 (HR. Bukhari)

                Ibuku adalah wanita yang ulet dan pekerja keras. Beliau adalah seorang guru Sekolah Dasar di sekolah di mana saya juga pernah bersekolah. Menjadi guru adalah cita-cita beliau sendiri, karena memang keluargaku adalah keluarga guru. Kakekku adalah seorang guru yang terkenal berwibawa pada waktu beliau masih mengajar dulu. Seingatku ibu pernah bercerita, bagaimana ketika kakek dengan baju yang disetrika rapi dengan kanji memasuki sekolah, maka tak akan ada murid-murid yang berani berbuat macam-macam. Murid-murid akan diam tak bersuara seakan-akan berhadapan dengan macan. Karena memang pada jaman kakek, guru adalah figur yang sangat dihormati.
                Hal itu pun menurun pada jiwa ibuku. Ibuku selalu tegas bila mengajar, bahkan pada anak-anaknya sendiri. Pernah dia memarahi kakak sulungku, karena datang terlambat, di hadapan murid-muridnya. Pada waktu itu kakak sulungku memang menjadi murid di kelasnya. Walhasil, kejadian itu menjadi momen yang tak terlupakan bagi kakakku, sehingga di waktu-waktu tertentu, terkadang dia menceritakan momen bersejarahnya itu kepada kami semua. Ibuku hanya terdiam mendengar cerita kakakku.
Menurutku, ibuku juga punya keinginan kuat untuk selalu berjuang dalam hidup. Sebagai contoh, pernah di waktu saya masih sekolah dasar Ibu membuat kue dan es manis untuk dijual sekadar menambah penghasilan keluarga. Walaupun hasilnya tidak seberapa, tapi mungkin ibu ingin mengajarkan arti ketekunan dan kerja keras kepada kami semua. Karena hidup memang harus dijalani dengan ketekunan dan kerja keras.  Dulu sewaktu saya kecil, saya telah terbiasa membantu ibu berdagang.  Mengantar es, mengantar kue ke sekolah pada pagi hari, lalu pada sorenya saya kembali mengambilnya ke tempat yang sama. Itu dulu sewaktu saya masih kecil.
                “Nak Benua biru. Bawa kue ini ke toko .” Perintah ibuku kepadaku waktu itu.
                “Baik bu.” Jawabku.
Dengan sepeda kecil yang kumiliki saya membawa kue-kue itu ke toko. Kukayuh dengan semangat, agar cepat sampai. Setelah sampai di toko tetangga, saya lalu meletakkan kue tersebut di rak dagangan, dan meminta izin untuk pulang. Pada malam harinya saya kembali lagi dan berharap kue-kue tersebut sudah habis semua. Bila kue-kuenya habis, terasa senanglah hatiku. Pak Suwadi akan memberikan saya uang kue hasil penjualan, tentu saja setelah memotong komisi untuknya.
Bukan hanya kue yang saya bawa, terkadang saya juga membawa es manis yang dibuat ibuku untuk diantarkan ke warung-warung yang ada di sekeliling kompleksku. Rutin aku dan saudara-saudaraku bergantian membawanya. Selain ke warung-warung dekat rumahku, ibu juga membuat kue untuk dijual di sekolah dasar tempatnya mengajar dan saya bersekolah. Sekolah dan rumahku tidak berjarak jauh. Saya bisa berjalan kaki dari rumahku ke sekolah.
Ada suatu kejadian ketika sepulang sekolah, kue-kue yang dibuat ibuku tidak habis. Sudah menjadi kebiasaan, bila bukan ibuku yang mengambil keranjang kue di warung sekolah, maka akulah yang akan mengambil keranjang kue tersebut. Namun ada yang berbeda hari ini. Ternyata teman-teman sekolahku sudah menungguku di dekat pintu gerbang ketika melihatku membawa tempat kue tersebut. Mereka bergerombol seperti orang yang sedang menunggu mangsa. Saya mulai berpikir ada yang salah. Mereka jumlahnya banyak, tentu saja bila mereka berniat jahat kepadaku, aku akan kalah.
                “Hai Benuabiru.” Seru mereka sambil tersenyum-senyum aneh.
                Biasanya kalau mereka sudah tersenyum, tentu ada sesuatu yang hendak mereka inginkan. Senyum itu terasa lebih aneh, karena pesan-pesan mereka seperti memancarkan sinyal khusus yang setaraf dengan kode morse. Harus diterjemahkan dulu oleh para ahli psikologi anak baru dapat dimengerti maknanya yang paling dalam.
                “Ada apa teman-teman?” Tanyaku
                “Boleh gak kami minta kue-kue yang tesisa?” Tanya mereka malu-malu melalui lisan Ferdy ketua geng mereka.
                Saya teringat pesan ibuku. Kalau memang ada kue yang tersisa dan seumpamanya teman-teman kamu memintanya, aku diperbolehkan oleh ibuku untuk membagikannya secara gratis.
                “Iya, boleh saja.” Sahutku sambil tersenyum.
                Tanpa dikomando, berhamburanlah mereka merebut kue-kue yang masih ada di keranjang kue yang saya bawa. Jumlah kue hanya sedikit, sedangkan mereka berjumlah banyak. Tentu saja terjadi perebutan kekuasaan untuk mendapatkan makanan.  Siapa yang kuat dia yang dapat, sedang yang lemah hanya akan mendapatkan remah-remah sisa si kuat. Sekali lagi terbukti keinginan untuk bertahan hidup salah satunya dengan perebutan makanan adalah tahap pertama dari hierarchy of needs.
                Di saat perebutan makanan itu terjadi, dan di tengah kebahagiaan mereka, datanglah seseorang dengan wibawa yang tinggi menghampiri mereka. Ternyata dia adalah Pak Amir, salah satu guru yang terkenal berwibawa di sekolah kami. Dia mendehem keras ke arah murid-murid kelas empat temanku.
                “Hai, sedang apa kalian?” Teriaknya kepada teman-temanku. Sebagian mereka menunduk memandang tanah, walau ada juga dari mereka yang masih ketawa cekikikan menahan geli mengingat perebutan makanan tadi.
                “Kalau mau makan kue, harus bayar.” Pak Amir marah bukan kepalang. Ditatapnya murid-murid itu dengan tajam. Entahlah, mungkin beliau merasa kasihan denganku. Mungkin pula beliau menyangka bahwa teman-temanku memaksa aku untuk memberikan sisa kue kepada mereka.
                Tentu saja menghadapi tatapan mata seperti itu, teman-temanku sekelasku yang tadinya berebut makanan menjadi keder. Mereka pun mengeluarkan uang dari kantongnya sambil memberi aku kode yang aku tahu maksudnya. Aku pun membalas kode mereka. Pak Amir pun tersenyum mengetahui instruksinya telah dilaksanakan dengan baik akhirnya pergi berlalu. Beliau tak menyadari permainan kode antara saya dan teman-temanku.
                Dan memang benar. Setelah Pak Amir pergi, teman-temanku itu meminta kembali uang mereka. Dengan senyum yang aneh, mereka menatapku lagi penuh makna. Tentu saja saya paham maksud di balik semua tingkah laku mereka. Saya hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka yang lucu. Uang yang semula berada di kantongku, akhirnya harus berpindah tangan lagi ke mereka. Demikian pula isi keranjang kueku. Bawaanku yang semula agak berat menjadi ringan karena memang sudah tidak ada lagi isinya dinikmati oleh mereka.
                Dan banyak lagi kenangan mengharukan dalam hidupku. Misalnya ketika suatu saat aku mengantar es manis ke sebuah warung dengan sepeda kecilku. Karena terlalu bersemangat, aku pun mengayuh sepedaku dengan sangat kencangnya. Brakk! Semua isi es dari termos yang kubawa jatuh ke tanah. Dan es-es yang dibuat ibuku dengan susah payah akhirnya menjadi kotor. Dengan hati yang hancur, aku membawa es-es itu ke rumah, membersihkan dan memisahkan bagian yang masih bisa diselamatkan, dan mana yang harus dibuang. Aku merasa sangat bersalah, karena es-es itu dibuat dengan susah payah oleh ibuku. Tapi ibuku memang seorang ibu yang mulia. Aku merasa sangat bersyukur, ketika mengetahui ibuku tidak marah sedikit pun kepadaku.

۩

                Beberapa minggu yang lalu saya pulang kembali ke kampung halamanku. Terasa lelah karena menempuh perjalanan kurang lebih dua belas jam untuk kembali ke homebase. Ada perasaan sedih setiap saya pulang, karena homebase-ku begitu jauh dari tempat saya bekerja. Ketika saat pulang tiba, terkadang hanya rasa lelah yang menghinggapi badan ini.
                Dan pagi itu, ibuku tanpa sadar telah mengajarkan saya filosofi itu.
                Mungkin, berdagang merupakan hobi yang tidak disadari oleh ibuku. Ketika saya pulang ibu sudah memberikan tugas baru bagiku.
                “Nak, nanti antar adek kamu ke pasar, buat nyari bahan-bahan nasi kuning dan agar-agar.”
                Ibu sudah bertekad menjual nasi kuning di sekolah sebagai tambahan penghasilan buat adek yang masih kuliah. “Untuk belin bensin motor adekmu”, kata beliau.
                Maka kepulanganku ke rumah sebagian kuisi dengan membantu ibu membuat nasi kuning.
                Membuat nasi kuning, menurut ibu haruslah sebaik mungkin. Ibu berkata seperti ini padaku:
                “Nak, kalau memasak nasi kuning itu jangan setengah-setengah. Harus sampai enak. Kadang ada orang yang memasak, nasi kuning tapi rasanya hambar. Ibu tidak mau seperti itu.” Sahut Ibu ketika saya membantunya membungkus nasi kuning.
                “Mencari uang itu harus bersusah-susah nak.” Sahut ibuku lagi.
                Saya terhenyak mendengar kata-kata beliau. Saya teringat kenangan di masa kecilku ketika saya membantu ibuku berjualan es, kini saat itu terulang kembali. Ibu harus berjuang kembali mencari rezeki sebagai bentuk ikhtiar beliau. Walau beliau telah mempunyai gaji dan kiriman dari anak-anaknya, tapi beliau tiada berhenti berusaha.
                Ibu seperti berpesan kepada saya, bahwa hidup itu seperti berjualan nasi kuning. Ketika kita memasaknya dengan setengah-setengah, maka orang lain tak akan menyukainya, dan dagangan itu pun tidak laku. Seperti itulah hidup. Ketika kita hanya mengolah diri kita setengah-setengah dan main-main, maka hasil kita akan terasa hambar. Dan memang berusaha itu tidaklah mudah dan memerlukan perjuangan.  Ibu bahkan tidak memperlihatkan rasa lelahnya dalam bekerja, setelah semalam begadang membuat nasi kuning itu. Mungkin itu karena ibu mencintai pekerjaan ini.
                Saya merenung dalam-dalam. Betapa selama ini dalam hidupku saya telah berjuang dengan keras untuk melewati segala rintangan. Betapa banyak masalah yang aku lewati, dan setiap masalah yang datang selalu membuatku belajar untuk terus bertahan hidup dan tidak menyerah. Di kala masalah yang baru tiba saat ini, tiada bijak saya menyerah kalah, padahal saya yakin dengan izin Allah insya Allah, saya akan bisa bertahan dan berusaha lagi menggapai kehidupan yang lebih baik.
Ah, ibu. Setiap saya mengingat kerja kerasmu, saya merasa semakin kagum kepadamu. Saya jadi malu mengeluh kepadamu tentang hidupku di perantauan. Terima kasih ibu atas sebuah pelajaran berharga tentang makna berusaha dalam kehidupan. Saya akan selalu berjuang menjadi lebih baik. Karena hidup memang harus diisi dengan perjuangan.
(NB: Nama2 di atas adalah fiktif belaka, tapi berdasarkan kisah pribadi)^_^V